NIKMATI PERPUTARAN KEHIDUPAN YANG KITA ALAMI



Ada ungkapan, hidup laksana sebuah roda. Artinya, selalu berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Yang jadi masalah adalah, bagaimana kalau saat berada di bawah kelamaan? Apa tidak jadi beban yang berkepanjangan? Di sinilah sebenarnya kekuatan seseorang diuji. Sebab, saat di bawah itulah, pilihan paling memungkinkan hanyalah berputar naik. Artinya, saat berada di level paling bawah, sebenarnya kita sedang “mengumpulkan energi” untuk naik ke atas.
Coba lihat seekor burung yang hendak terbang. Dalam sebuah tayangan di sebuah stasiun televisi, saya melihat bagaimana gerak—yang diperlambat sepersekian ribu detik—burung yang hendak terbang naik ke atas. Bagi sebagian besar orang pasti akan mengatakan, sayapnyalah yang membuat ia naik ke atas. Tak salah. Tapi, jika diperhatikan lebih detail, yang membuat burung bisa bertolak naik terbang adalah pijakannya. Kalau pijakannya tidak kokoh, burung terbangnya cenderung lebih sulit. Misalnya, kalau dahannya meliuk ke bawah, saat ditekan kaki burung yang hendak terbang, ia awalnya seperti hendak jatuh. Beda kalau yang dipijak adalah bagian yang keras atau tidak lentur, burung dengan mudah terbang ke atas.
Gambaran tersebut adalah sebuah analogi betapa penting masa-masa di bawah. Betapa pentingnya “injakan”—yakni masa-masa sulit—untuk menjadi titik tolak kita bisa “terbang” atau berputar ke atas. Di sinilah sebuah sudut pandang—atau mindset—menjadi penentu bagaimana seseorang akan bersikap. Kalau sadar “roda” akan terus berputar, maka dengan ikhlas ia akan menerima kondisi keterpurukan sebagai masa pembelajaran.
Pun demikian sebuah perputaran kehidupan. Yang namanya berputar, pasti akan mengalami masa kembali ke titik awal untuk kemudian menuju titik berikutnya. Di sinilah “seni”-nya sebuah perputaran. Ini juga mengapa saya mencuplik ungkapan Mark Twain, seorang pengarang dan sastrawan yang sangat ternama. Ia menyebut sejarah tak akan berulang, tapi ia akan membentuk pola—layaknya sebuah irama puisi (history does not repeat, but it rhymes).
Jika ditilik ke belakang, dan kemudian kita lihat sejenak apa yang sudah dan sedang terjadi, pernahkah kita mengalami satu momen yang—kita merasa—mirip dengan sebuah kejadian. Kadang, kita menyebutnya dengan dejavu—merasa mengulangi sebuah kejadian tertentu yang mirip dengan kejadian di masa lalu. Mungkin sebagaian besar dari kita pernah mengalami kejadian-kejadian yang mirip. Di sinilah salah satu bagian penting dari “seni” perputaran.
Tanpa sadar, sebenarnya kita—barangkali—sedang berputar dalam sebuah roda kehidupan yang mengantar kita pada satu peristiwa ke peristiwa lain—yang memiliki kemiripan. Atau, kalau pun tidak mirip, setidaknya kita pasti pernah berkaca dari pengalaman orang lain yang kemudian jadi referensi untuk melakukan sesuatu, karena merasa kejadian yang dialami mirip dengan yang kita alami saat ini.
Inilah pentingnya kita memahami “seni” perputaran kehidupan. Jika kita bisa “menandai” berbagai peristiwa di masa lampau dengan aneka pembelajaran, di masa kini dan masa depan, kita akan bisa melakukan berbagai antisipasi saat terjadi peristiwa tertentu. Konon, John Naisbitt dengan Megatrends 2000-nya, sebenarnya juga “meramalkan” masa depan dengan berkaca dari pengalaman di masa lalu. Dari buku yang cukup menghebohkan dunia itulah, Naisbitt berhasil menjadikan “perputaran zaman” sebagai pembelajaran untuk meraih keberhasilan.
Maka, seperti yang diungkap Mark Twain, jika kita bisa “merasakan” perputaran kembali pada sebuah titik, kita akan bisa merasakan irama “sajak” yang bisa membimbing kita untuk jadi manusia yang selalu lebih baik dari sebelumnya. Sehingga, mereka yang bisa mengambil pelajaran di masa lalu dan menjadikannya sebagai bekal menghadapi masa depan, akan memiliki kekuatan untuk meraih yang didambakan.
Itulah mengapa, di mana dan kapan pun titik kita berada saat ini, jika dirasa berat, jangan pernah putus asa. Kalau kita berada di titik yang terasa penuh kebaikan dan prestasi luar biasa, jangan pula merasa sombong, karena itu pun tak akan bertahan selamanya.
Mari, sadari dan nikmati perputaran kehidupan yang kita alami. Jadikan setiap momen sebagai momen berharga untuk terus belajar, sehingga kita akan menjadi manusia yang lebih baik, lebih bijak, dan lebih fleksibel dalam menghadapi berbagai keadaan.

0 komentar:

Post a Comment