Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Kisah nyata yang bagus sekali untuk contoh kita semua yang saya dapat dari millis sebelah (kisah ini pernah ditayangkan di MetroTV).

Ini cerita nyata, beliau adalah Bapak Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yang sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dalam memajukan industri Reksadana di Indonesia. Apa yang diutarakan beliau adalah sangat benar sekali. Silakan baca dan dihayati.

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.

Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.

Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas sore dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari, ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-kata: “sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya,­­ kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya: “Anak-anakku… Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah.. tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian. Sejenak kerongkongannya­­ tersekat, kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun.”

“Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”

Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak suyatno. Merekapun melihat butiran-butiran­­ kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan mereka pun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa.

Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita..” Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan”.

“Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama. Dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…”

** Semoga cerita ini bermanfaat untuk kita renungkan , tentang "Arti Sebuah Kesetiaan", Amin....

Note: Selagi ada waktu maksimalkan waktumu untuk orang-orang yang kamu sayangi, Gusti Mberkahi...



Salah satu supplier saya di Guang Zhou, China, yang paling sukses adalah Jen Wen. Padahal dia sekolah hanya sampai SMP saja di kampung halamannya. Tetapi selama 10 tahun saya berbisnis saya terkagun kagum melihat perkembangan bisnisnya yang cepat dan hebat.

Kemarin, pada dalam sebuah obrolan ringan tentang sumber daya manusia dan karyawan dan sekolahan dan kampus, dia memberikan sebuah pandangan yang menarik: “Yang paling kasihan adalah lulusan sarjana, yang merasa dirinya tinggi dan hebat, dan menginginkan gajih tinggi, tapi sebenarnya belum mampu bekerja.”

“Saya dulu kerja apa saja mau, gajih berapa saja saya terima, dan pelan2 belajar dan bekerja keras. Anak sekarang, maunya kerja yang enak, mudah, dan bergajih tinggi. Sementara kemampuan kerja masih sangat lemah, karena apa yang diajarkan di kampus tidaklah memberikan kemampuan kerja praktis apapun.”

“Belum lagi ada dukungan orang tua yang salah, kalau tidak dapat kerja, ya disuruh pulang dan diberi penghidupan yang enak tanpa kerja apapun. Terjadilah pengangguran besar pada lulusan universitas yang “terkatung katung” dalam masyarakat kerja kita.”

Tiba-tiba saya terpikir akan keadaan di Indonesia, apakah benar sama? Ataukah kasus kita berbeda? Tiba2 teringat akan sistem pengajaran di kampus2 kita, apakah kita telah memberikan perangkat tepat untuk lulusan kita benar2 bisa bekerja dengan benar dan baik di dunia bisnis. Ataukah kita juga menciptakan lulusan “terkatung katung” yang belum mampu bekerja tetapi memiliki kepala yang terlalu besar dan sombong? Bagaimana pendapat anda?


Salam Bahagia Selalu

Tanadi Santoso


Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acara pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan. Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan", katanya sambil menyodorkan majalah tersebut. "Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia".

Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.

Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya. "Aku akan mulai duluan ya", kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman. Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa air mata suaminya mulai mengalir.

"Maaf, apakah aku harus berhenti ?", tanyanya.

"Oh tidak, lanjutkan...", jawab suaminya.

Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia "Sekarang gantian ya, kamu yang membacakan daftarmu".

Dengan suara perlahan suaminya berkata: "Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa kamu sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Kamu adalah dirimu sendiri. Kamu cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang".

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya. Ia menunduk dan menangis.

Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan.

Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita ?

Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.

Seorang dokter bersaksi bahwa ia pernah melakukan operasi terhadap gadis kecil yang hanya mempunyai harapan 10% saja untuk hidup.

Ketika para perawat sedang mempersiapkan pembiusan, gadis kecil ini bertanya kepada saya :

"Dokter bolehkah saya menanyakan sesuatu ?"

"Ya sayang, apa yg ingin kamu tanyakan?".

"Setiap malam sebelum tidur saya selalu berdoa, sekarang sebelum operasi dimulai, bolehkah saya berdoa?"

"Baiklah anak manis, engkau memang harus berdoa, jangan lupa berdoa juga untuk saya.

"Kemudian gadis kecil itu melipat kedua tanganya dan berdoa :.

"Tuhan, Engkau Maha pengasih dan penyayang berkatilah, aku malam ini dalam kegelapan, kiranya Engkau dekat denganku, lindungi aku sampai datangnya sinar mentari esok pagi, Dan berkati pula dokter yang akan mengoperasiku.

"Setelah menutup doanya gadis kecil itu berkata " sekarang saya sudah siap Dokter.

"Mata saya berkaca-kaca melihat betapa besar iman yang dimiliki gadis kecil tersebut.

Malam itu sebelum saya mulai operasi, saya berdoa.

" Tuhan yg baik, Engkau boleh tidak membantuku dalam operasi yang lain, tapi kali ini bantulah aku untuk menyelamatkan gadis kecil ini,

"Kemudian saya mulai mengoperasi gadis kecil itu.

Dan keajaiban terjadi, dia disembuhkan.

Saat berpisah dan melepas gadis kecil itu untuk kembali ke rumah, maka saya sadar sesungguhnya sayalah "pasien" yang menjalani operasi iman.

Gaya hidup gadis kecil itu mengajarkan bahwa jika kita menyerahkan seluruh masalah dan beban hidup kita ke dalam tangan Tuhan, maka Dia akan memulihkan dan menolong kita.

Dengan Berdoa dan Beriman, Membuat kita yakin bahwa Tuhan mampu memelihara Dan menjaga harapan yang kita gantungkan kepadaNya.Doa menjadikan iman sebuah kenyataan.

Selamat BERDOA dan BERIMAN di sepanjang hidup kita!

 


Ada seorang tukang tahu. Setiap hari ia menjual dagangannya ke pasar. Untuk sampai ke pasar, ia harus naik angkot langganannya.

Dan untuk sampai ke jalan raya, ia harus melewati pematang sawah.

Setiap pagi ia selalu berdoa kepada Tuhan agar dagangannya laris.

Begitulah setiap hari, sebelum berangkat berdoa terlebih dahulu dan pulang sore hari. Dagangannya selalu laris manis.

Suatu hari, ketika ia melewati sawah menuju jalan raya, entah knapa tiba2 ia terpeleset. Semua dagangannya jatuh ke sawah, hancur berantakan ! Jangankan untung, modal pun buntung !

Mengeluhlah ia kepada Tuhan, bahkan "menyalahkan" Tuhan, mengapa ia diberi cobaan seperti ini? 

Padahal ia selalu berdoa setiap pagi.

Akhirnya ia pun pulang tidak jadi berdagang. Tapi dua jam kemudian ia mendengar kabar, bahwa angkot langganannya yg setiap hari ia tumpangi, pagi itu jatuh ke dalam jurang. Semua penumpangnya tewas ! 

Hanya ia satu2nya calon penumpang yg selamat, "gara- gara" tahu nya jatuh ke sawah, sehingga ia tidak jadi berdagang.

Doa tidak harus dikabulkan sesuai permintaan kita, tapi terkadang diganti oleh Tuhan dengan sesuatu yg jauh lebih baik daripada yg diminta.

Tuhan Maha Tahu kebutuhan kita, dibandingkan diri kita sendiri. 

Karena itu, janganlah jemu berdoa, juga jangan menggerutu, apalagi mengutuk !

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Tuhan mengetahui, sedang manusia tidak mengetahui''

Tuhan memberkati

 


Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya :

” Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita…? “

Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata :

” Tidak, nak… “

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi…

” Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun…?”

Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.

” Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan…?”

Ayahnya tertawa…

” Mungkin tidak bisa juga, nak…”

” OK ayah, ini yang terakhir kali…

Apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja…?”

Akhirnya ayahnya mengangguk.

“Kemungkinan besar, bisa nak…”

Anak ini tersenyum lega…

” Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah…

Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar… “

Ide atau pemikiran yg menarik bukan? 

Mungkin kita bisa tantang diri kita untuk... 

HIDUP 1 JAM TANPA :

Tanpa marah

Tanpa kesal

Tanpa hati dan niat buruk

Tanpa pikiran negatif

Tanpa menjelekkan orang lain

Tanpa iri 

Tanpa serakah 

Tanpa 'kebodohan' 

Tanpa kesombongan

Tanpa kebohongan

Tanpa kepalsuan…

SELAMAT MENCOBA, GUSTI MBERKAHI...

 

Seorang anak kecil dan ayahnya sedang berjalan di sebuah gunung. 

Tiba-tiba anak itu tergelincir dan menjerit, “Aaaaahhh!!!” Betapa kagetnya ia, ketika mendengar ada suara dari balik gunung, “Aaaaahhh!!!”

Dengan penuh rasa ingin tahu, ia berteriak, “Hai siapa kau?”. 

Ia mendengar lagi suara dari balik gunung, “Hai siapa kau?”

Ia merasa dipermainkan dan dengan marah berteriak lagi, “Kau pengecut..!!” Sekali lagi dari balik gunung terdengar suara, “Kau pengecut..!!”. 

Ia lalu menengok ke ayahnya dan bertanya, “Ayah, sebenarnya apa yang terjadi?”.

Ayahnya tersenyum dan berkata, “Anakku, mari perhatikan ini”. 

Kemudian ia berteriak sekuat tenaga pada gunung, “Aku mengagumimu..!!”. Dan suara itu menjawab, “Aku mengangumimu..!!”. 

Sekali lagi ayahnya berteriak,”Kau adalah sang juara..!!”. Suara itu pun menjawab lagi,”Kau adalah sang juara..!!”.

Anak itu merasa terheran-heran, tapi masih juga belum memahami. 

Kemudian ayahnya menjelaskan, “Nak, SUARA PANTULAN TADI, orang-orang menyebutnya GEMA, tetapi sesungguhnya inilah yang dimaksud dengan hidup itu. Ia akan mengembalikan padamu apa saja yang kau lakukan dan katakan.”

Hidup kita ini hanyalah refleksi dari tindakan kita. 

Bila kau ingin mendapatkan lebih banyak cinta kasih di dunia ini, maka berikanlah cinta kasih dari hatimu. 

Bila kau ingin mendapatkan kebaikan dari orang lain, maka berikanlah kebaikan dari dirimu.

Hal ini berlaku pada apa saja dan pada semua aspek dalam hidup. 

Hidup akan memberikan apa yang telah kamu berikan padanya. 

Maka, sebenarnya hidup ini BUKAN SUATU KEBETULAN. 

Hidup adalah pantulan dari dirimu; gema dirimu.


Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang dibesarkan di panti asuhan. Anak ini menyimpan keinginan untuk dapat terbang seperti burung. Di dalam hati ia selalu bertanya-tanya mengapa ia tidak bisa terbang seperti halnya burung.

Di kebun binatang, anak laki-laki itu melihat burung-burung yang lebih besar daripada tubuhnya, tetapi mengapa mereka bisa terbang? "Mengapa aku tidak bisa terbang? Apakah yang salah dalam diriku?" Anak itu bertanya dalam hatinya.

Ada lagi anak laki-laki lain yang kakinya pincang. Anak ini ingin sekali agar ia bisa berjalan dan berlari seperti anak-anak lainnya. "Bagaimana agar aku bisa seperti mereka?" Tanyanya dalam hati.

Suatu hari, anak laki-laki yang ingin terbang tadi, bermain jauh dari panti asuhan. Ia datang ke sebuah taman di mana ia melihat anak laki-laki yang pincang tadi sedang bermain di dalam kotak pasir. Ia berlari menemui anak yang sedang bermain tersebut dan bertanya,

"Apakah kamu pernah memiliki keinginan untuk bisa terbang?"

"Tidak," jawab anak yang pincang.

"Tapi aku pernah membayangkan bagaimana rasanya bisa berjalan dan berlari seperti anak-anak lain," sambungnya lagi.

"Apakah menurut kamu kita bisa berteman?" Tanya anak laki-laki dari panti asuhan.

"Tentu."

Kedua anak laki-laki itu pun bermain bersama selama berjam-jam. Mereka membangun rumah-rumahan pasir dan membuat suara-suara lucu dengan mulut mereka. Suara-suara lucu itu membuat mereka tertawa gembira. Kemudian ayah anak laki-laki yang pincang datang membawa sebuah kursi roda.

Anak laki-laki yang ingin terbang tadi mendekati ayah temannya dan membisikkan sesuatu di telinganya.

"Baik, silahkan," jawab sang ayah.

Kemudian ia mendekati temannya yang pincang dan berkata,

"Kamu adalah temanku dan aku ingin melakukan sesuatu yang bisa membuatmu berjalan dan berlari seperti anak-anak lain. Sayang sekali aku tidak bisa. Tetapi ada sesuatu yang dapat kulakukan untukmu."

Anak itu pun menunduk dan menyuruh temannya yang pincang untuk naik ke punggungnya. Setelah itu ia berlari melintasi lapangan rumput. Ia berlari semakin lama semakin cepat sambil menggendong sahabatnya di atas punggungnya.

Hembusan angin terasa menerpa wajah kedua anak laki-laki tadi. Ayah si anak yang pincang mulai menangis ketika melihat anaknya merentangkan tangannya dan berkepak-kepak bak burung yang sedang terbang. Dengan suara penuh semangat ia berteriak,

"Aku terbang Ayah, aku terbang.."

Ini merupakan kisah nyata dimana Roger Dean Kiser, adalah anak yatim yang menggendong temannya pada punggungnya dan berlari.

Setiap orang memiliki keinginan dan harapan. Tetapi ketika keinginan itu tak terwujud, jangan bersedih. Lakukan apa yang bisa kita lakukan dan berbahagialah. Bersyukurlah pada Tuhan untuk keberadaan kita, karena keterbatasan bisa mendatangkan kepuasan.

terima kasih Tuhan untuk keberadaanku sekarang ini. Aku percaya selalu ada cara yang Tuhan bisa pakai untuk membuatku bahagia. Amin.

"Keadaan tidak menentukan kebahagiaan seseorang, sikap hati lah yang menentukan."


Ada seorang filsuf yang menaiki sebuah perahu kecil ke suatu tempat. Karena merasa bosan dalam perahu, kemudian dia pun mencari pelaut untuk berdiskusi.

Filsuf menanyakan kepada pelaut itu: ” Apakah Anda mengerti filosofi?”
“Tidak mengerti.” Jawab pelaut.
“Wahh, sayang sekali, Anda telah kehilangan setengah dari seluruh kehidupan Anda.

Apakah Anda mengerti matematika?” Filsuf tersebut bertanya lagi.
“Tidak mengerti juga.” Jawab pelaut tersebut.

Filsuf itu, menggelengkan kepalanya seraya berkata:
“Sayang sekali, bahkan Anda tidak mengerti akan matematika.
Berarti Anda telah kehilangan lagi setengah dari kehidupan Anda.”

Tiba-tiba ada ombak besar, membuat perahu tersebut terombang-ambing. Ada beberapa tempat telah kemasukan air,
Perahu tersebut akan tenggelam, filsuf tersebut ketakutan. Seketika, pelaut pun bertanya pada filsuf: ” Tuan, apakah Anda bisa berenang?”

Filsuf dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata: “Saya tidak bisa, cepat tolonglah saya.”
Pelaut menertawakannya dan berkata: “Berenang Anda tidak bisa, apa arti dari kehidupan Anda? Berarti Anda akan kehilangan seluruh kehidupan Anda.”

Semua orang sebenarnya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Bangga atas prestasi itu wajar saja, tetapi jangan sampai membuat diri sendiri menjadi sombong maupun angkuh akan prestasi tersebut. Ingatlah, selalu ada yang lebih pintar dari kita. Dan kita juga masih perlu belajar dari kelebihan orang lain.

Tidak lagi terlena dan terpenjara dengan kemahsyuran sumber daya alam Indonesia yang berlimpah. Bangsa ini tidak hanya dibentuk oleh alam, namun juga oleh kehebatan sumber daya manusia yang belum teroptimalkan. Telah banyak fakta ditorehkan anak negeri akan prestasi dan kesuksesan persaingan di dunia internasional. Salah satunya tahun ini datang dari kakak beradik, Arfian Fuadi (28) dan Arie Kurniawan (23).

Melalui ajang bergengsi yang diadakan oleh General Electric (GE)--perusahaan internasional yang berpusat di Amerika, Arfian dan Arie berhasil merebut juara pertama dalam “3D Printing Challenge” tahun 2014. Hal yang tergolong mengejutkan, mengingat bahwa kompetisi ini diikuti oleh hampir seluruh insiyur terkemuka dengan berbagai latar belakang hebat di dunia pendidikan.

Pemuda asal Salatiga, Jawa Tengah ini, berhasil menaklukkan persaingan dari 700 karya yang berasal dari lebih 50 negara di dunia. Keduanya mempertunjukkan karya luar biasa dengan mendesain Jet Engine Bracket sebagai salah satu komponen mengangkat mesin pesawat terbang, dengan keunggulan memangkas berat komponennya 84 persen lebih ringan dari berat prototipe sebesar 2 kilogram, atau hanya sebesar 327 gram. Posisi kedua ditempati oleh seorang insiyur Swedia yang bergelar Ph.D (baca: setingkat S3), sedangkan di posisi ketiga adalah lulusan dari Oxford University, yang notabene satu universitas terbaik di dunia.

Arfian dan Arie "hanya" lulusan SMA serta SMK di Jawa Tengah. Keinginannya melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi harus terkubur karena biaya dan sulitnya persaingan masuk perguruan tinggi negeri yang lebih murah dari universitas swasta di Jawa Tengah. Sebelum menggeluti bidang Design Engineering, sehari-hari keduanya melakukan pekerjaan serabutan mulai menjadi tukang bengkel hingga berjualan susu keliling desa.

Sang kakak, Arfian yang pertama kali tertarik pada bidang yang senyatanya sukar jika tidak memiliki keahlian khusus. Komputer pertama yang mereka beli adalah hasil dari keringat dan tabungan berbulan-bulan bekerja. Keduanya belajar secara otodidak dan terus berlatih dengan giat. Di tahun 2009, barulah mereka beranikan diri untuk membangun suatu wirausaha di bidang jasa design engineering, dengan nama D’Tech.

Permintaan pertama jasa mereka datang dari pengusaha asal Jerman untuk membuat sebuah desain jarum dengan bayaran USD 10 per set. Tawaran tersebut datang dari usaha marketing mereka di dunia maya dan aktif dalam bidang 3D design engineering. Hasil yang memuaskan konsumennya, membuat kedua pemuda ini kebanjiran pesanan dari luar negeri. 

Pengalaman inilah yang memberanikan mereka untuk mengikuti sebuah ajang kompetisi internasional yang semakin melambungkan nama mereka, membanggakan nama bangsa, serta membuka mata kita semua akan betapa besarnya potensi anak negeri ini.

Sumber : Andriewongso.com

 

Di tepi Danau Como yang sangat indah di Italia, terdapat sebuah vila tua yang bagus sekali. Diperkirakan usianya telah dua ratus atau tiga ratus tahun. Selama bertahun-tahun, tanah di sekitarnya dirawat dengan baik sekali oleh seorang tukang kebun tua yang dapat dipercayai. 

Pada suatu hari, beberapa orang wisatawan yang datang ke sana memberikan pujian kepada tukang kebun itu karena pekerjaannya yang sangat baik itu. 

“Pemilik kebun ini tentunya seringkali datang kemari untuk mengawasi pekerjaanmu,” kata salah seorang dari wisatawan itu.

“Oh, tidak, Tuan,” jawab si tukang kebun. “Dia baru datang kemari sekali saja, yaitu lima belas tahun yang lalu. Sejak itu saya tidak berjumpa dengan dia lagi.”

“Kalau demikian, bagaimana engkau bisa menerima perintah-perintah dari pemilik kebun ini?” tanya wisatawan lainnya.

“Perintah-perintah itu diberikan dari seorang wakilnya yang tinggal di Milan,” jawab orang tua itu.

“Tentunya dia sering datang kemari.”

“Tidak, tidak terlalu sering. Barangkali sekali dalam satu tahun.”

“Hal ini benar-benar amat mengagumkan,” kata wisatawan itu. 

“Tidak ada seorangpun yang mengawasi engkau bekerja, tetapi sekalipun demikian engkau merawat taman di sini dengan baik sekali, seolah-olah engkau berharap bahwa pemiliknya akan datang kembali ke sini hari ini!”

Apakah kalian siap bekerja seperti itu stiap hari?


Anthony Burgess, 40 tahun menderita tumor otak, Dokter mengatakan bahwa sisa hidupnya hny tinggal paling lama 1 tahun lagi.

Biaya pengobatan telah membuatnya jatuh miskin. Satu satu hal yg paling dia risaukan adalah saat dia meninggal, dia tidak punya apa² utk istrinya, Lynne, yg segera akan menjadi janda.

Burgess berpikir, apa yg harus aku lakukan dia tidak mau hanya menunggu saja, hingga ajal menjemputnya. Burgess tidak pernah menjadi novelis sebelumnya, tetapi dia tahu ada potensi dalam dirinya untuk menjadi seorang penulis. Sehingga dia mengharapkan royalty penjualan bukunya dpt menopang kehidupan istrinya kelak.

Lalu diapun mulai menulis tetapi dia tidak tahu bagaimana bukunya akan terpublikasikan.

"Itu adalah bulan Januari 1960," katanya, "Menurut perkiraan, saya hanya memiliki musim dingin, musim semi dan musim panas untuk hidup, dan pada musim gugur ajal akan datang menjemputku.”

Untuk mengejar sisa waktu hidupnya, Burgess menulis penuh semangat, dia menyelesaikan 5½ novel dalam tahun itu. Tetapi tahun itu berlalu, Burgess tdk meninggal. Kanker otaknya telah lenyap sama sekali. Dan itu tdk membuatnya berhenti menulis juga dan dia terus menulis hingga mewariskan 70 judul novel sebelum meninggal, Bukan karena kanker.

Dia mungkin tidak pernah pernah menulis kalau bukan adanya ancaman kanker otak tersebut.

Banyak dari kita seperti Anthony Burgess, Banyak Kehebatan yg terpendam dalam diri kita, apakah selalu menunggu sampai saat kritis baru dimunculkan.

Tanyakan pada diri kita, apa yg akan dilakukan saat menghadapi ajal seperti Anthony Burgess...

"Jika saya hanya mempunyai sisa satu tahun untuk hidup, apa yg akan saya lakukan? "

Lakukan yg Terbaik Mulai Sekarang dan JANGAN TUNDA LAGI !

Suatu hari, seorang pedagang kaya datang berlibur ke sebuah pulau yang masih asri dan agak terpencil letaknya. Saat merasa bosan, dia berjalan-jalan keluar dari villa tempat dia menginap dan menyusuri tepian pantai. Lalu, dia melihat di dekat dinding karang, seseorang sedang duduk menunggui stik pancing. Dia pun menghampiri sambil menyapa,
 
"Selamat siang.. Sedang memancing, Pak?"
 
Sambil menoleh si nelayan menjawab, "Benar, Tuan. Mancing satu-dua ikan untuk makan malam keluarga kami."
 
"Lho, kenapa cuma satu-dua ikan pak? Kan banyak ikan di laut ini. Kalau bapak mau sedikit lebih lama duduk disini, tiga-empat ekor ikan pasti dapat kan?" Si pedagang dalam hatinya mulai menilai si nelayan sebagai orang malas.
 
"Apa gunanya buat saya?" tanya si nelayan keheranan.
 
"Ambil satu-dua ekor ikan untuk disantap keluarga bapak. Sisanya kan bisa dijual. Hasil penjualan ikan bisa ditabung untuk membeli alat pancing yang lebih baik sehingga hasil pancingan bapak bisa lebih banyak lagi," katanya menjelaskan, dengan nada menggurui.
 
"Ah, apa gunanya bagi saya?" tanya si nelayan semakin keheranan.
 
"Begini, Pak. Dengan uang tabungan yang lebih banyak, bapak bisa membeli jala. Bila hasil tangkapan ikan semakin banyak, uang yang dihasilkan juga lebih banyak, bapak bisa saja membeli sebuah perahu. Dari satu perahu bisa bertambah menjadi armada penangkapan ikan. Bapak bisa memiliki perusahaan sendiri. Suatu hari bapak akan menjadi seorang nelayan yang kaya raya."
 
Nelayan yang sederhana itu memandang si turis dengan penuh tanda tanya dan kebingungan. Dia berpikir, laut dan tanah telah menyediakan banyak makanan bagi dia dan keluarganya, mengapa harus dihabiskan untuk mendapatkan uang? Mengapa dia ingin merampas kekayaan alam sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali. Sungguh tidak masuk diakal ide yang ditawarkan kepadanya.
 
Sebaliknya, merasa hebat dengan ide bisnisnya si pedagang kembali meyakinkan, "Kalau bapak mengikuti saran saya, bapak akan menjadi kaya dan bisa memiliki apa pun yang bapak mau."
 
"Apa yang bisa saya lakukan bila saya memiliki banyak uang?" tanya si nelayan.
 
"Bapak bisa melakukan hal yang sama seperti saya lakukan, setiap tahun bisa berlibur, mengunjungi pulau seperti ini, duduk di dinding pantai sambil memancing."
 
"Lho, bukankan hal itu yang setiap hari saya lakukan tuan, kenapa harus menunggu berlibur baru memancing?" kata si nelayan menggeleng-gelengkan kepalanya semakin heran.
 
Mendengar jawaban si nelayan, si pedagang seperti tersentak kesadarannya bahwa untuk menikmati memancing ternyata tidak harus menunggu kaya raya.
 
NOTE:
Pepatah mengatakan, "Jangan mengukur baju dengan badan orang lain." Si pedagang mungkin benar melalui analisa bisnisnya. Dia pun merasa apa yang dilakukan oleh si nelayan terlalu sederhana dan monoton. Berusaha dan berjuang mendapatkan uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya adalah hal yang wajar.
 
Sedangkan bagi si nelayan, dengan pikiran yang sederhana, mampu menerima apapun yang diberikan oleh alam dengan puas dan ikhlas. Sehingga hidup dijalani setiap hari dengan rasa syukur dan berbahagia.
 
Memang ukuran "bahagia", masing-masing orang pastilah tidak sama. Semua kembali kepada keikhlasan dan cara kita mensyukuri, apapun yang kita miliki saat ini!
 
TUHAN MEMBERKATI ANDA DAN KELUARGA!

Setelah peristiwa 11 September, sebuah perusahaan mengundang karyawan yg selamat saat terjadinya serangan atas WTC. 

Pada pertemuan itu, semua org menceritakan bagaimana mrka bisa selamat. 
Dan semua kisah itu adl hanya mengenai : HAL-HAL YANG KECIL 

#Kepala keamanan perusahaan selamat pd hari itu krn mengantar anaknya hari pertama masuk TK 

#Karyawan lain msh hidup krn hari itu adl gilirannya membawa kue utk murid di kelas anakny 

#Seorg wanita terlambat dtg krn alarm jamnya tdk berbunyi tepat waktu 

#Seorang karyawan ketinggalan bus 

#Seorang karyawan menumpahkan makanan di bajunya sehingga perlu waktu utk berganti pakaian 

#Seorang karyawan msk ke dlm rumah kembali utk menerima telepon yg berdering 

#Seorang karyawan tdk mendapatkan taxi 

#Sedangkan satu hal yg menahan saya sendiri adl : Sebuah Sepatu Baru. 
Saya memakai sepatu baru pagi itu dan berangkat kerja dgn bersemangat. Tetapi seblm sampai di kantor (WTC), sepatu itu menyebabkan luka di tumit. Saya berhenti di sebuah toko obat utk membeli plester. 
Inilah yg menyebabkan saya bisa tetap hidup sampai hari ini. 

Sekarang, jika saya terjebak dlm kemacetan lalu lintas, ketinggalan lift, hrs msk ke rumah lagi utk menjawab telepon dan semua HAL KECIL yg mengganggu, saya sgt MEMAHAMI bahwa Tuhan benar2 menginginkan saya berada di sini untuk saat ini.

Suatu pagi jika kita merasa semuanya terlihat sgt kacau, anak2 lambat berpakaian, anda tdk bisa menemukan kunci mobil, selalu sampai di perempatan saat lampu merah menyala. 

Jangan terburu2 MARAH atau FRUSTASI. Karena Tuhan sdg BEKERJA utk Menjaga Kehidupan kita. 

Terkadang hal yang terjadi itu bkn hanya KEBETULAN.. Semua itu mengingatkan kita utk lebih PEKA dan SABAR.. 
TUHAN turut bekerja dlm segala hal yg terjadi utk mendatangkan kebaikan bagi kita yg berserah kepada TUHAN. 

Kiranya TUHAN selalu Memberkati kita dgn semua HAL-HAL KECIL yg tampaknya mengganggu dan semoga kita bisa mengingat akan maksud dari semua Peristiwa Kecil yang terjadi. 

*share dari seseorang yg selamat dari serangan WTC 11 sept 2001

Artikel ini merupakan kerja sama LINE TODAY x Quora untuk memberikan ruang diskusi yang bermanfaat. Kami juga mengajak pembaca untuk memberikan pendapat di kolom komentar.

Apakah Kamu Pernah Merasakan Keajaiban Sedekah?

Dijawab di Quora Indonesia oleh Daeng Ipul.

Ada satu kejadian yang begitu membekas buat saya. Mungkin sekitar tahun 2005 yang lalu.

Saya sedang mengantar anak ke rumah sepupunya. Biasanya dia memang dia suka minta diantar ke rumah sepupunya saat weekend. Biar ada teman mainnya katanya.

Begitu memarkir motor, ada seorang perempuan tua berpakaian lusuh mendekati saya. Saya tebak dia pengemis, dari dandanannya. Dia menyodorkan tangan seperti meminta sesuatu. Tidak ada kata-kaya, hanya gerakan.

Saya segera merogoh kantong, mencari uang berapa saja untuk saya serahkan ke dia. Saya lupa berapa nominalnya, tapi yang saya ingat dia tersenyum dan berlalu. Saya bahkan lupa apakah dia berterima kasih atau tidak.

Saya menyelesaikan urusan menitip anak, cuma sebentar sebelum saya kembali ke rumah. Tidak jauh dari rumah sepupu itu saya bertemu si pengemis tua itu.

Dia berdiri di pinggir jalan, menatap saya dengan tatapan yang sulit saya jelaskan maknanya. Saya hanya tersenyum dan mengangguk sopan, tapi saya bisa ingat sampai sekarang bagaimana tatapan matanya. Tatapan yang agak aneh menurut saya.

Tiba di rumah saya beraktivitas seperti biasa. Sampai kemudian ada telepon yang masuk. Telepon dari seorang teman yang beberapa bulan sebelumnya pernah bekerja sama dengan saya.

"Bro, minta nomor rekeningmu. Ada uangmu sama saya, fee proyek yang dulu," katanya.

Butuh waktu beberapa detik sebelum saya ingat proyek yang mana yang dia maksud. Memang kami pernah sama-sama mengerjakan proyek beberapa bulan yang lalu, tapi setahu saya proyek itu macet di tengah jalan. Sayapun sebenarnya sudah merelakan proyek itu karena si teman sudah membayar sebagian hasil kerja saya menggunakan uang pribadinya. Saya tidak menyangka kalau ternyata proyek itu masih jalan, dan teman saya masih ingat kalau ada sisa pembayaran saya yang belum dia lunasi.

Singkat cerita hari itu dia melunasi sisa pembayaran saya yang sebenarnya sudah tidak saya harapkan lagi.

Hari itu benar-benar hari yang "aneh" buat saya. Dua kejadian yang berentetan dan membuat saya berpikir, apakah ini yang dinamakan keajaiban sedekah?

Entahlah. Biar Tuhan yang menentukan. Toh saya bersedekah hari itu tanpa berharap apapun. Kalau memang kejadian piutang saya terbayar karena sedekah itu, ya Alhamdulillah. Kalau ternyata tidak ada hubungannya, ya Alhamdulillah juga karena piutang yang sudah tidak saya harapkan toh terbayar juga.

~~~

Apakah Kamu Pernah Merasakan Keajaiban Sedekah?

Dijawab di Quora Indonesia oleh Guan Ghewa.

Beberapa tahun lalu, saat baru mulai merintis usaha, ada suatu masa dimana proyek sangat sepi.

Normalnya dalam 1 bulan saya bisa dapat 1–2 proyek, tapi kali ini sudah hampir 5 bulan belum juga dapat. Saat itu bulan Oktober. Hampir memasuki akhir tahun. Target Omzet yang direncanakan di awal tahun, baru tercapai 30an persen.

Kepala saya pusing. Tidur malam ga tenang. Belum lagi ada tunggakan cicilan perusahaan yang mesti dibayarkan dan nilainya lumayan fantastis.

Ditengah rasa suntuk itu, saya berencana pergi ke bioskop untuk refreshing. Akhirnya malam hari setelah selesai semua kegiatan kantor, sayapun bergegas kesana. Sesampai di mall (bioskopnya dalam mall), saya melihat 3 orang anak kecil yang sedang menjajakan koran dan keripik di area mall.

Kemudian saya panggil mereka lalu bertanya soal tempat tinggal, sekolah dimana, dan seperti apa keseharian mereka. Teryata anak2 ini adalah anak2 yang cerdas. Terbukti dari ketiga orang ini selalu masuk 5 besar rangking di kelasnya. Cuma nasibnya saja yang ga sebagus anak2 sepantara mereka. Saking asyiknya bercerita, tidak terasa sudah jam 7 malam. Itu artinya sudah sekitar 30 menitan saya bercerita dengan mereka. Hati saya tergerak untuk mengajak mereka makan bersama. Awalnya mereka menolak karena dagangan belum laku, tapi saya jawab "sudah, dihitung aja semuanya berapa. Nanti kakak beli" betapa senangnya mereka malam itu. Kegembiraan terpancar dari rona wajah mereka..dan itu membuat saya juga ikut bahagia. Saya ajak mereka ke pizza hut untuk makan bersama. "Bebas pesan apa aja deh. Kakak yang traktir malam ini" begitu kata saya.

Mendengar itu salah satu dari anak kecil itu berkata "kak, apa boleh saya ajak juga beberapa teman disana? Mereka juga belum makan dari siang" sambil menunjuk 2 anak seusia mereka sedang duduk tidak jauh dari resto. "Oya, aja aja dek, gapapa" anak itu tersenyum senang lalu berlari memanggil teman2nya, sementara saya dan 2 orang ana lagi langsung masuk resto untuk mencari meja.

Tak berapa lama kemudian, saya mendengar riuh suara anak2 di pintu masuk resto. mereka dihalangi oleh pelayan. Saat melihat keluar saya kaget setengah mati..ternyata jumlahnya mereka hampir 20anak..hahaha..😂

"MAMPUS GUA !!!" 😵

Umpat saya dalam hati. Tapi mau gimana lagi..akhirnya saya jemput mereka untuk kemudian makan bersama. Saya minta bantuan pelayan untuk gabungkan beberapa meja sehingga muat untuk kami semua. Kami jadi pusat perhatian semua pengunjung pizza hut waktu itu. Saya makan ga tenang. Kenapa? Krna Uang saya di ATM cuma tersisa 2 jutaan. Itu artinya Kalau ga cukup, maka habislah saya. Tapi saya pikir pendek saja waktu itu "kalaupun uangnya ga cukup, nanti saya tinggalin aja HP, terus balik rumah buat ambil uang lagi".

Setelah makan saya minta billnya dan cek, ternyata 3.750.000. hampir pingsan saya liatnya..😂

Namun tiba2 tanpa disadari ada seorang bapak dari arah belakang menepuk pundak saya. Saya balik, beliau tersenyum, lalu diserahkan CCnya pada pelayan "pake punya saya aja mbak" ..saya cuma melongo dan tak tau harus berkata apa. saya tidak mengenal dia dan kami belum pernah bertemu sebelumnya. Mau basa basi nolak, tapi ntar kalo dia berubah pikiran bisa berabe..hehe.

Kami lalu duduk bersama anak2 itu, lalu dia bilang "kamu anak baik, kamu masih muda tapi sudah bisa berbuat sejauh ini. Saya sama istri sejak tadi terus memperhatikanmu. Terimakasih sudah memberi contoh yang baik"

Tak lama kemudian nota pembayaran diantar pelayan, anak2 mengucapkan terimakasih sambil berteriak gaduh.. para pengunjung yang ada disitu semua bertepuk tangan. Airmata saya jatuh tak tertahan.

Anak2 kembali diminta duduk. Salah seorang pengunjung kemudian berinisiatif memesan 1 pan pizza untuk masing2 anak. Lalu ada 1 lagi yang memesan menu lain..lalu 1 lagi..dan 1 lagi. Jadi saat kembali, anak2 itu membawa sekitar 4 atau 5 paket makanan setiap orang. Sungguh malam yang luarbiasa untuk saya. hati saya lega dan beban2 pikiran serasa terangkat semua.

Malam itu banyak yang meminta nomor kontak saya, mengajak berbincang dan menanyakan pekerjaan saya.

2 hari kemudian saya mendapat telpon dari nomor baru. Katanya dia mendapat rekomendasi dari salah seorang sahabatnya. Dia ingin membangun rumah dan sedang mencari seorang kontraktor khusus pembangunan rumah pribadi. Kami berbasa basi sedikit lewat telpon, kemudian lanjut via wa. Dia mengirimkan denah dan desain rumah untuk saya estimasi. Malamnya saya kabari via wa total biaya pembangunan rumahnya

"selamat malam pak, total semuanya sampai terima kunci, 800 juta. Terimakasih" saya ingat betul bunyi wa saya saat itu. Kemudian saya ke kamar mandi untuk cuci kaki tangan sebelum tidur. Biasanya setelah pengajuan harga, apalagi nominalnya cukup besar, butuh waktu bagi calon klien untuk berdiskusi, tawar menawar harga, revisi denah, atau tanpa kabar beberapa bulan, atau tidak dibalas dan menghilang.

Setelah dari kamar mandi, saya ke kamar, ada pesan masuk "oke, kalau begitu kapan bisa mulai pembangunannya pak ?" Orang itu balas CUMA 2 MENIT SETELAH SAYA KIRIMKAN ESTIMASI BIAYANYA !!! WHAT THE HELL !!!

saya sangat terkejut dan sampai melompat2 kegirangan. Itu proyek terbesar yang pernah saya handle sejak 2 tahun usaha saya jalan. 😁

Seminggu kemudian saya ditelpon lagi oleh orang tak dikenal, yang juga tidak butuh waktu lama untuk deal proyek, begitu seterusnya hingga bulan desember total ada 7 proyek yang deal. Target Omzet tahun itu bahkan terlampaui sampai 50%.

Itulah dahsyatnya memberi. Pemberian yang tulus, mungkin akan sedikit memberi penyesalan di hati, tapi pasti akan dibalas setimpal oleh semesta.

Btw, saya ga pernah memberi di gereja. Menurut saya itu sesuatu yang tidak berguna. Saya lebih suka memberi langsung pada orang2 yang saya anggap pentas untuk mendapatkan. Tapi semua kembali pada pribadi masing2 sih. Berbuat baiklah selama masih bisa berbuat baik 😊

~~~

Apakah kamu punya cerita serupa? Share di kolom komentar yuk!

Sumber: https://today.line.me/ID/article/vVN7vQ?utm_source=copyshare


Suatu hari di suatu masa, seorang serdadu muda yang pasukannya kalah dalam sebuah pertempuran dahsyat dikejar pasukan musuh. Ia berusaha keras berlari secepat kilat untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi pasukan musuh terus mengejar dan jaraknya semakin dekat. Serdadu muda itu sangat takut. Ia lalu berlalu berlari ke hutan dan terus berlari.

Ketika sampai di jalan berbatu, ia melihat sebuah gua menganga di depannya. Karena musuh semakin dekat dan mulai kehabisan tenaga, serdadu itu tak punya pilihan lain kecuali bersembunyi di dalam gua. Dengan susah payah dia merangkak ke dalam gua yang gelap. Dalam keadaan putus asa ia juga berjanji, jika Tuhan menyelamatkannya, ia akan berbuat baik seumur hidupnya.

Sambil terus berdoa di dalam hati, matanya menatap ke mulut gua untuk melihat apakah musuh sudah tiba. Di saat itulah, ia melihat seekor laba-laba berjalan membuat sarang di mulut gua. Sambil terus mengamati benang-benang halus yang terus terjalin mengelilingi mulut gua, serdadu muda itu makin putus asa. "Saya berdoa minta perlindungan dan dibebaskan dari kejaran musuh, tapi Tuhan malah mengirim laba-laba. Bagaimana mungkin laba-laba menyelamatkan saya?" katanya dalam hati.

Sesaat kemudian, ia mendengar musuh yang mengejarnya sudah tiba dan berada di sekitar gua. Jantungnya berdetak makin keras. Ia merasa musuhnya pasti akan menemukannya lalu membunuhnya. Tiba-tiba seorang serdadu musuh dengan senapan siap ditembakkan, berjalan menuju ke mulut gua. Serdadu muda itu semakin meringkuk dengan tujuan agar musuh tidak menemukannya di dalam gua sambil berfikir keras bagaimana cara menyelamatkan diri. Detak jantungnya makin deras dan tak terkendali.

Sementara itu, salah satu serdadu musuh yang mengejar berjingkat-jingkat mendekati mulut gua. Ketika sampai ke mulut gua, ia melihat sarang laba-laba yang kini terjalin sempurna di mulut gua. Ia lalu berjalan mundur dan berkata dengan suara keras kepada komandannya, "Rasanya tak mungkin ada orang di dalam gua. Kalau dia masuk ke dalam gua, sarang laba-laba itu pasti rusak."

Sesudah itu, ia lalu mengusulkan kepada komandannya untuk mencari di tempat lain. Serdadu muda itu selamat dan memenuhi janjinya dengan bekerja melayani sesama.

***

"Tuhan menolong kita dengan berbagai cara. Kadang Tuhan menolong dengan cara yang sama sekali di luar dugaan kita."

Alkisah di China,
terdapat 2 orang kakak beradik yg berbeda ibu.

Ibu si kakak sudah lama meninggal.
Kini dia tinggal bersama ayah, ibu tiri & adik tirinya.

Sang kakak menanam pohon labu & dgn rajin memeliharanya hingga tumbuh besar.

Suatu hari mereka mendengar kabar bahwa raja sedang sakit parah,
tabib istana mengatakan bahwa labu kembar dpt menyembuhkan penyakit raja.

Maka di adakan sayembara,
barangsiapa yg memiliki labu kembar akan mendapat satu peti emas.

Sang kakak segera memberitahu pd keluarganya.

Pada hari keberangkatan sang kakak ke ibukota,
ibu memanggil si adik ke dlm dapur,
"Ada 2 ptg kue, yg polos & bergambar bunga.
Berilah kakakmu kue yg bergambar bunga,
sbab ibu tlah memberi racun di dalamnya."

"Kenapa ibu ingin membunuh kakak?
Bukankah ibu juga menyayangi kakak?"

"Ibu memang menyayanginya,
tapi kamu adalah anakku & ibu tdk rela bila kakakmu mendapatkan emas itu,
maka biarlah dia memakan kue beracun ini."

Kemudian si adik membawa kue itu ke kakaknya,
"Adikku, tunggu kakak ya,
kakak janji akan segera pulang & membeli banyak oleh² untuk mu dari kota & uang emas hadiahnya u/ kita bersama !!"

Sang adik terdiam,
kemudian berkata pd kakaknya,
"Kakak, ibu memberi kita berdua kue, makanlah tapi aku ingin kue yg bergambar bunga."

Setelah itu si adik dgn lahap memakan kue beracun itu.

Setelah kepergian kakaknya,
dia berkata pd ibunya,
"Ibu, kue beracun itu tlah kumakan,
kakak sangat baik kepadaku, mana mungkin aku tega membunuhnya.
Setelah aku mati, sayangilah dia seperti ibu menyayangiku...­"

Ibunya yg mendengarnya kemudian memeluknya,
"Anak bodoh, tdk ada racun sama sekali di kue bergambar bunga itu.
Ibu hanya menguji rasa sayangmu pd kakakmu,
ibu kuatir kamu mjd iri dgn kemujuran kakakmu..."

"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat."

Note: Tetap jalani hidupmu dengan semangat baru, hidup cuma sekali "My Friend" jangan berlarut2 dan memelihara pikiran negatif. GOD BLESS U!

Barangkali tidak semua orang pernah mengalami
masa-masa pembentukan karakter seperti yang dialami oleh seorang Paul J. Meyer. Ia dibesarkan di California selama masa Depresi Besar atau Zaman Malaise (masa menurunnya tingkat ekonomi di seluruh dunia, 1929-1944). Ia pun terpaksa harus bekerja sebagai buruh tani di usia yang masih sangat muda. Para mandor bahkan mengeluhkan bahwa Paul masih terlalu muda untuk bekerja. “Kami ingin ia tahu bagaimana rasanya bekerja,” itu prinsip dari orang tua Paul.

Pada suatu hari yang sangat panas, Paul kembali dari ladang dengan hidung mimisan dan menangis tersedu-sedu. “Ibu, berapa lama lagi aku harus melakukan pekerjaan seperti ini? Ibunya menghapus air mata Paul dan merangkulnya hangat, “Sabarlah, Paul, semua ini adalah permadani ajaib yang akan membawamu terbang tinggi. Ketika proses ini selesai, kau akan dibawa kemanapun kau mau. Kau akan menjadi apapun yang kau suka.”

Kata-kata ibunya itu memantik kembali semangat Paul. Sejak saat itu, ia selalu semangat saat bekerja di ladang, tidak peduli seberapa berat pekerjaannya. Ia pun bertumbuh menjadi seorang pemuda yang sopan dan memiliki etos kerja yang tinggi. Di usia 19 tahun, ia memutuskan memulai usahanya sebagai sales asuransi yang membawanya menjadi jutawan di usia 27 tahun. Setelah itu, Paul menjadi eksekutif penjualan untuk Word, Inc. Hanya dalam waktu 2 tahun saja, ia berhasil meningkatkan penjualan perusahaan hingga 1500%. Paul pun mulai berkecimpung dalam bisnis pengembangan karakter dan berhasil menjual program-program pengembangan karakter ke lebih dari 60 negara di dunia.

***

Karakter menentukan masa depan kita apakah akan menjadi masa depan yang suram atau cerah. Ingatlah, kesempatan besar hanya diberikan kepada orang-orang dengan kualitas karakter yang baik. Orang-orang seperti ini dapat bangkit dengan cepat saat jatuh sehingga Tuhan dapat mengangkat hidupnya dengan mudah.

Gusti mberkahi.

Siapa yang tak kenal Po si panda dalam film animasi Amerika berjudul "Kungfu Panda"? Saking suksesnya, film ini dibuatkan film-film lanjutannya. Nah dari film kocak nan inspiratif ini, ada satu hal penting yang bisa dibilang tak lekang waktu.

Masih ingat Master Oogway, seekor kura-kura yang sudah berusia tua? Suatu hari di kala perasaan Po sedang gundah, Master Oogway mengatakan:

Yesterday is a history
Tomorrow is a mystery
But, Today is a gift
That is why it's called Present.

Waktu itu Po sedang merasa sedih sekaligus kecewa pada keadaan dan dirinya sendiri. Ia mendapati kenyataan kalau Lima Pendekar yang menjadi idolanya ternyata membencinya. Terlebih lagi, Master Shifu juga membencinya karena sepertinya Po tidak bisa memenuhi harapan untuk menjadi seorang pendekar kung fu yang andal. Di tengah keterpurukan itu, Po berandai-andai, "Mungkin seharusnya aku berhenti belajar kung fu dan kembali membantu ayah menjual mi."

Mendengar ucapan Po, Master Oogway berkomentar, "Kau ini terlalu memikirkan apa yang telah lewat dan merisaukan apa yang akan terjadi." Setelahnya, ia menyampaikan pepatah luar biasa seperti yang sudah tertulis di atas.

Seperti halnya Po, kita seringkali terlalu memikirkan dan merisaukan kejadian-kejadian di masa lalu, segala kesalahan dan penyesalan yang notabene tidak bisa kita ubah karena memang sudah terjadi. Kita juga terlalu mencemaskan apa yang akan terjadi di masa mendatang, segala ketakutan dan kekhawatiran tentang hal-hal yang belum terjadi. Sebenarnya kedua hal itu tidak ada gunanya karena akan membuat kita berjalan di tempat.

Sebagaimana yang dikatakan Master Oogway: Kemarin adalah sejarah dan besok masih menjadi misteri. Dari peristiwa di hari kemarin, cukup kita mengambil hikmah positifnya saja jika memang ada sesuatu pelajaran penting yang bisa kita petik. Lalu mengenai esok hari, karena masih misteri, yang bisa kita lakukan hanyalah melakukan yang terbaik di hari ini. Sesuatu positif yang kita lakukan di hari ini tentu akan memiliki dampak positif juga di esok hari. Karena itulah, Master Oogway mengakhiri pesannya dengan mengatakan: But today is a gift. That's why it is called present.

Mari kita menjalani hari ini sebagai layaknya sebuah hadiah yang berharga. Dengan begitu, dijamin kita akan menyongsong esok hari yang cerah dan penuh harapan. Luar biasa!

Alkisah, ada pasangan muda yang baru saja menikah dan pindah rumah. Mereka tinggal di sebuah kompleks perumahan yang cukup asri dengan tetangga yang ramah satu sama lainnya. Beberapa bulan menempati rumah baru tersebut, mereka sudah cukup akrab dengan tetangga kiri kanan.

Suatu kali, sang istri menengok dari balik jendela samping ke rumah tetangganya. Kebetulan, pagi itu si tetangga sedang menjemur baju. Saat itu, ia sedang menyiapkan sarapan suaminya. Tiba-tiba, sang istri berkata, “Ayah, lihatlah tetangga kita. Mereka orangnya baik. Tapi sayangnya kurang bersih saat mencuci pakaian ya..”

Sang suami hanya tersenyum. Ia tidak menanggapi omongan istrinya itu.

Namun, di pagi hari berikutnya, istrinya terus-menerus memberikan komentar yang senada. Bahkan, hingga seminggu kemudian, komentarnya bertambah pedas. “Aku lihat, makin hari malah makin tambah kurang bersih saja cucian mereka. Kita harus memberi tahu mereka, menunjukkan bahwa kita ini tetangga baru yang baik dan peduli.”

Sang suami kembali hanya tersenyum. Namun, kali ini ia berujar pendek. “Nanti lihat saja saatnya.”

Di akhir minggu, saat mereka libur, sang suami tampak bangun lebih pagi dari biasanya, mendahului istrinya.

Saat bangun, sang istri setengah terkejut. Tidak biasanya sang suami bangun mendahuluinya, apalagi di hari libur. “Ada apa suamiku? Apa ada pekerjaan kantor yang kamu bawa sampai hari libur saja masih harus bangun pagi-pagi?” tanya sang istri.

Suaminya hanya tersenyum. Dan, seperti biasa, kemudian percakapan terjadi di ruang makan. Namun, kali ini sang istri berkomentar dengan nada yang jauh lebih menyenangkan. “Wah… akhirnya ada juga yang memberi tahu tetangga kita ya. Cucian mereka tampak lebih bersih dan rapi. Warnanya baju-bajunya bahkan terlihat sangat cemerlang. Apakah engkau tadi pagi yang akhirnya memberi tahu mereka agar bisa mencuci sebersih diriku? Pasti kamu juga tidak tahan dengan kondisi cucian mereka sehingga memutuskan memberi tahu langsung. Betul?” sahut sang istri.

“Sebenarnya, tak ada yang memberi tahu mereka apa pun. Aku tadi pagi hanya bangun lebih pagi untuk membersihkan kaca jendela kita sendiri,” sebut sang suami. dengan bijak

Sang istri tampak kaget dan sedikit malu.

“Istriku… aku tahu dirimu bermaksud baik. Tapi, cobalah lihat lagi lebih saksama. Kadang memang kita melihat semut di kejauhan, tapi gajah di depan mata tak tampak. Sering kali kita melihat orang lain, padahal sebenarnya yang lebih perlu kita perhatikan adalah apa yang ada pada diri kita. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kamu dan kita bersama, untuk mau mengubah sudut pandang saat melihat apa yang kita anggap kurang dari orang lain.”